Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Mei 2011

Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah)

Dalam perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa setiap kabilah dan bani Arab memiliki hak untuk memilih kepada siapa mereka berpihak, kepada Rasulullah atau kepada bani Quraisy. Maka bani Khuza’ahpun memilih untuk berdiri di pihak Rasulullah. Sementara bani Bakar memilih bani Quraisy sebagai pihak yang didukungnya.
Suatu hari di tahun 8 H ( 630 M), orang-orang bani Bakar yang memang memusuhi bani Khuza’ah meminta bantuan Quraisy untuk memerangi musuhnya itu. Tanpa berpikir panjang Quraisypun mengirim bantuannya. Dengan cara menyamar mereka berkomplot mengepung perkampungan bani Khuza’ah yang saat itu sedang tidur nyenyak. Orang-orang bani Khuza’ah sama sekali tidak mengira bahwa malam tersebut mereka akan diserang pada malam hari. Pada peristiwa nahas tersebut, 20 orang Khuza’ah terbunuh.
Keesokan harinya, segera Amr bin Salim al-Khuza’ah bersama 40 orang dari bani Khuza’ah, dengan mengendarari kudanya pergi menemui Rasulullah memohon bantuan.
“ Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu sebagaimana aku menolong diriku sendiri”, begitu tanggapan Rasulullah begitu menerima pengaduan tersebut.
”Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).
Pihak Quraisy sendiri menyesali perbuatan ceroboh tersebut. Segera mereka mengutus Abu Sufyan agar menemui Rasulullah guna meminta perpanjangan dan perbaruan genjatan senjata.  Namun Rasulullah tidak menanggapi permintaan tersebut. Maka Abu Sufyanpun menemui Abu Bakar. Abu Bakarpun menolak, «  Aku tidak bisa melakukannya ». Demikian pula Umar bin Khattab yang kemudian ditemuinya setelah mendengar jawaban Abu Bakar.
“ Apa? Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah? Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau berbuat kesalahan walau sebutir pasir, tentu engkau kuperangi ».
Akhirnya Abu Sufyan terpaksa pulang tanpa membawa hasil.
Sementara itu diam-diam Rasulullah menyiapkan penyerangan. Beliau berdoa : «  Ya Allah, tutuplah mata orang-orang Quraisy agar mereka tidak melihatku kecuali secara tiba-tiba”. ( HR. Ibnu Ishaq dan Ibnu Saa’d).
Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah. Hal ini dilakukan untuk mengecoh Quraisy agar tidak mengetahui tujuan sebenarnya. Pada saat itulah Rasulullah tiba-tiba memerintahkan Ali bin Abi Thalib bersama dua sahabat lain untuk segera mengejar seorang perempuan yang berada di sebuah kebun bernama Khakh. Ali mendapat tugas untuk merampas surat yang dibawa perempuan berkuda tersebut.
«  Keluarkan surat yang kamu bawa ! », perintah Ali begitu ia berhasil menemukan perempuan yang dimaksud Rasul. Mulanya perempuan tersebut menyangkal bahwa ia membawa surat. Akan tetapi setelah Ali mengancamnya maka terpaksa ia mengeluarkan surat yang disembunyikan di balik gulungan rambutnya itu.
Setelah itu segera Ali kembali ke hadapan Rasulullah dan menyerahkan surat tersebut. Ternyata surat tersebut ditulis oleh Hatib bin Abi Balta’ah, seorang shahabat Muhajirin. Ia menujukkan surat tersebut kepada seorang Quraisy, mengabarkan bahwa Rasulullah saw sedang menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Dialah, Allah, Dzat Yang Maha Melihat, yang kemudian mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib.
Rasulullahpun segera memanggil Hatib dan meminta penjelasan tentang apa yang telah dilakukannya itu. “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana”, begitu penjelasan Hatib.
Mendengar itu, sontak Umar bin Ibn-Khattab berkata :  “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”
Namun dengan bijak, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar … “.
Akan tetapi tak lama kemudian turun ayat yang isinya teguran kepada orang  yang suka membocorkan rahasia Rasulullah, seperti apa yang diperbuat Hatib.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.(QS.Al-Mumtahanah(60) :1).
Selanjutnya, pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 H, dengan membawa 10 ribu Muslimin, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Di lain pihak, meski orang-orang Quraisy belum mengetahui rencana Rasulullah, dengan gagalnya misi Abu Sufyan, mereka telah memperkirakan penyerangan tersebut. Untuk memastikan hal itu, maka mereka mengutus Abu Sufyan, Hakim bin Hizzam dan Badil bin Warqa untuk menyelidiki apa yang dilakukan kaum Muslimin.
Hingga di suatu tempat di sekitar Zhahran, mereka melihat obor api yang sangat besar. Sebelum mereka menyadari bahwa itu adalah rombongan kaum Muslimin dibawah pimpinan Rasulullah, para pengawal telah menangkap ketiganya. Maka keesokan harinya, ketiga orang Quraisy tersebutpun memeluk Islam.
Ibnu Ishaq berkata,: Diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sufyan, “ Keesokan harinya, aku bawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah saw. Setelah melihatnya, Rasulullah berkata, “ Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui sesungguhnya tidak ada Ilah kecuali Allah ?” Abu Sufyan menyahut, “ Alangkah penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah, aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku “. Nabi saw bertanya lagi, “  Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah?” Abu Sufyan menyahut, “ Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah dan suka menyambung tali keluarga. Demi Allah, mengenai hal yang satu ini sampai sekarang di dalam diriku masih ada sesuatu yang mengganjal”. Abbas menukas,:  “ Celaka ! Masuk Islamlah dan bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah sebelum aku penggal lehermu”. Abu Sufyan kemudian mengucapkan syahadat dengan benar dan masuk Islam”.    .
Hadist diatas mencerminkan bahwa Abu Sufyan, dedengkot musuh Islam  itu, sesungguhnya mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ia juga mengakui bahwa Muhammad, ponakannya itu, adalah orang yang patut menjadi panutan karena beliau adalah seorang yang baik hatinya, penyantun, pemurah dan suka menyambung tali silaturahmi. Namun demikian ia masih belum dapat mengakuinya sebagai utusan karena menurutnya ada sesuatu yang masih mengganjal meski ia sendiri tidak tahu apa ganjalan tersebut.
Itu sebabnya, Abbas yang merupakan sahabat karib Abu Sufyan, mendesaknya agar segera berikrar. Karena ia tahu bahwa ganjalan tersebut bukanlah hal utama. Islam memang mengajarkan bahwa untuk memeluk Islam ( tunduk ) seseorang tidak harus telah memiliki keimanan yang tinggi. Karena keimanan itu akan tumbuh dan berproses seiring dengan berjalannya waktu dan pengetahuan, atas izin-Nya.
“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hujurat(49):14).
Itu pula sebabnya, pada saat peperangan, seorang Mukmin tidak boleh menganggap Islamnya seseorang yang tadinya kafir di tengah pertempuran hanya sekedar rasa takut atau ingin mendapatkan rampasan perang meski dari luar tampaknya memang demikian.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa(4):94).
Abu Sufyan, sebagai orang Quraisy yang awalnya sangat membenci dan memusuhi Islam serta memeluk Islam karena ancaman Abbas membuktikan hal tersebut. Setelah penaklukkan Mekah, ia ikut berperang beberapa kali. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia kehilangan salah satu matanya.
Rasulullah saw kemudian bertanya, : “Yang manakah yang engkau lebih inginkan, sebuah mata di surga atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?” . Ternyata Abu Sufyan lebih memilih sebuah mata di surga. Kemudian pada perang berikutnya, yaitu perang Yarmuk yang terjadi 6 tahun setelah penaklukkan Mekah, ia bahkan kehilangan matanya yang keduanya. Selama 14 tahun setelah peristiwa itu, Abu Sufyan tetap dalam keislamannya hingga akhir hayatnya.
Kembali ke peristiwa masuk Islamnya Abu Sufyan. Tak lama setelah Abu Sufyan bersyahadat,  Abbas yang adalah juga salah satu paman Rasul itu, berkata: Ya Rasul, Abu Sofyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan. Karena itu berikan sesuatu kepadanya.”
“Ya. Aku sudah memikirkan hal itu. Untuk itu, siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

“ Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.
Ya, itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Sufyan agar disampaikan kepada orang-orang Quraisy Mekah yang akan beliau masuki beberapa saat lagi. Ini adalah cara Rasulullah menghindari perang antar saudara. Rasulullah hendak menaklukkan Mekah dengan Ka’bahnya bukan karena nafsu perang melainkan demi meluruskan kembali ajaran Ibrahim yang berabad-abad lamanya telah diselewengkan.
Setelah Abu Sufyan dan 2 kawannya yang diserahi memata-matai kaum Muslimin tertangkap, Rasulullah segera meneruskan perjalanan menuju Mekah. Akan tetapi sebelum berangkat, beliau berpesan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman yang dicintai sekaligus sahabat Abu Sufyan yang baru saja memeluk Islam, agar menahan sahabatnya itu di mulut lembah yang akan dilalui pasukan Muslim. Rasulullah memang bermaksud mempertontonkan kekuatan dan kebesaran pasukan tersebut kepada pemimpin Quraisy yang disegani masyarakatnya itu.
Maka pasukan demi pasukanpun berjalan melewati Abu Sufyan. Tercengang ia dibuatnya hingga ia merinding ketakutan.
“Abbas, siapakah mereka itu?”
“Mereka itu kabilah Sulaim”, jawab Abbas.
“Apa urusanku dengan kabilah Sulaim?!” komentar Abu Sufyan.
Kabilah lainpun lewat. Abu Sufyan bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.
“Mereka kabilah Muzainah,” Abbas menjawab lagi.
“Apa urusanku dengan Kabilah Muzainah?!”
Begitulah seterusnya hingga setiap kabilah lewat. Terakhir, pasukan Rasulullah yang berwarna hijaupun melewatinya. Abu Sufyan menatap tanpa berkedip. Mereka semua dilindungi baju besi.
“Subhanallah, Abbas! Siapa mereka itu?”
“Itu Rasul bersama Muhajirin dan Anshar.”
“Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi kekuatan mereka. Demi Allah, hai Abu Fadhal, kemenakanmu kelak akan menjadi maharaja besar ….”.
Hai Abu Sufyan, itu bukan kerajaan, melainkan kenabian”, tukas Abbas.
Kalau begitu, alangkah mulianya, ungkap Abu Sufyan dengan yakin. Sekarang ia mulai mantap dengan status keislamannya.
Demikianlah Ibnu Sa’ad, Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair juga Bukhari meriwayatkan kekaguman Abu Sufyan akan kebesaran Islam. Meski sebenarnya malam sebelum berikrarpun ia telah terkagum-kagum dengan pasukan Islam yang pada malam yang dingin itu sedang melaksanakan wudhu sebelum shalat.
Riwayat di atas juga mengandung hikmah bahwa apa yang disangka Abu Sufyan kerajaan itu tidak sama dengan kenabian. Nyaris 22 tahun lamanya Rasulullah berjuang menegakkan agama Islam,  bukan kerajaan. Jika hanya sekedar kekuasaan dan kerajaan sebenarnya Rasulullah dapat meraihnya tanpa perlu berhijrah ke Madinah. Para pemuka Quraisy sendirilah yang ketika itu menawarkannya kepada Rasulullah, saking gemasnya melihat kekerasan hati Rasulullah dalam berdakwah menuju Islam.
Selanjutnya Abbas berkata, : “ Selamatkanlah kaummu !”. Maka Abu Sufyanpun segera pergi ke Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”
Mendengar itu, istri Abu Sufyan, Hindun binti Uthbah, memarahinya “ Alangkah buruknya perbuatanmu sebagai pemimpin”. Abu Sufyan menegaskan “ Celakalah kalian kalau bertindak menuruti hawa nafsu. Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian tandingi”.
Sementara orang-orang Quraisy mencemoohnya , “ Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apa gunanya rumahmu bagi kami?”. Lalu Abu Sufyan menyahut : ” Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.
Menyadari bahwa pemimpin mereka tidak main-main, akhirnya merekapun berlarian, sebagian pulang ke rumah menutup pintu dan sebagian lain berlindung ke Masjidil Haram. Sementara itu Rasulullah telah makin mendekati Mekah. Beliau memasuki kota ini dari dataran tinggi Kida dan memerintahkan pasukan pimpinan Khalid bin Walid masuk melalui dataran rendah Kida.
Bukhari meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “ Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, ‘Aku melihat Rasulullah pada waktu Fath-Makkah berada diatas untanya seraya membaca surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau, “ Seandainya orang-orang tidak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang”.
“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah”,(QS. Al-Fath(48):1-5).
Rasulullah berpesan kepada pasukannya agar menghindari sebanyak mungkin korban. Hanya 6 orang lelaki dan 4 perempuan yang beliau perintahkan agar dibunuh dimanapun mereka berada. Mereka itu adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhahabah al-Laitsi, Huwairits bin Nuqaid dan Abdullah bin Hilal. Sedangkan yang perempuan adalah Hindun binti Uthbah, Sarah, Fartanai dan Qarinah. Ke 10 orang ini adalah orang-orang kejam yang sangat membenci Islam dan harus dihukum mati.
Maka dalam waktu yang relatife singkat, pasukan Islampun berhasil menaklukkan Mekah dan Ka’bahnya tanpa banyak perlawanan kecuali pasukan Khalid. Pasukan ini akhirnya menang setelah memakan korban 24 orang Quraisy. Jumlah yang teramat sedikit bagi hitungan perang dimana pasukan Islam mengirimkan 10 ribu orang pasukan. Itupun tampak bahwa Rasulullah tidak senang ketika melihat kilatan pedang di kejauhan. Namun ketika beliau mendapat penjelasan bahwa itu adalah pasukan Khalid yang membalas serangan musuh, beliaupun hanya berkomentar : “ Ketentuan Allah selalu baik”.
Rasulullah langsung menuju Ka’bah. Di sekitar tempat tersebut terdapat 360 berhala. Dengan mengucap “ Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebathilan.  Kebenaran telah tiba dan kebathilan tak akan kembali lagi”, Rasulullah mengayunkan pentungan dan menghancurkannya satu persatu. Demikian pula berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah, semua dikeluarkan sebelum Rasulullah memasukinya. Beliau bertakbir disudut-sudut Ka’bah kemudian keluar.
Ketika Rasulullah hendak mengembalikan kunci pintu Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah, memohon agar kunci rumah suci tersebut diserahkan kepadanya.  Namun atas perintah Allah swt melalui Jibril as, Rasulullah tetap menyerahkannya kepada Utsman. Rasulullah tidak memindahkan hak tersebut karena itu memang perintah Sang Khalik.
“ Terimalah kunci ini untuk selamanya. Bukan aku yang menyerahkan kepada kalian tetapi Allah menyerahkannya kepada kalian. Sesungguhnya tak seorangpun akan mencabutnya ( hak memegang kunci Ka’bah) kecuali orang yang zalim”.
Tak lama kemudian turun ayat yang tertera di kain penutup Ka’bah hingga saat ini :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.An-Nisa(4):58).
Utsman memang adalah pemegang kunci Ka’bah secara turun temurun sejak zaman nabi Ismail as. Ia keturunan bani Thalhah. Namun setelah ia wafat, kunci kini dipegang oleh keturunan anak bapaknya, yaitu bani Syaibah, hingga detik ini. Setelah itu Rasulullah thawaf kemudian memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan shalat. Orang-orang kemudian berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.(QS.An-Nasr(110):1-3)

Ibnu Ishaq berkata, Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, nabi saw sambil memegang kedua penyangga pintu Ka’bah mengucapkan khutbah kepada mereka,
“ Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah ( Allah) yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya ( Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”. 
Rasulullah meneruskan sabdanya :
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.Al-Hujurat(49):13).
Selanjutnya nabi saw bertanya: “ Wahai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak kuambil terhadap kalian?”
“ Tentu yang baik baik! Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia”, jawab mereka.
Rasulullah lalu bersabda,: “ Pergilah kalian semua, kalian bebas !”
Begitu pula sebagian orang yang mulanya telah dipastikan harus dibunuh pada awal penaklukkan Mekah. Sebagian lain terlanjur dibunuh dalam perlawanan dengan Khalid. Mereka yang bebas adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah dan Hindun binti Uthbah, perempuan istri Abu Sufyan yang mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah, paman Rasulullah. Padahal ketika itu Rasulullah begitu sedih dan marah mengetahui paman tercinta itu dianiaya dan bersumpah akan membalas perbuatan biadab tersebut. Di kemudian hari, orang-orang yang telah dibebaskan tersebut membuktikan bahwa mereka bisa menjadi Muslim yang baik.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Adwi bahwa Nabi saw bersabda di dalam khutbahnya pada waktu fat-hu Makkah: “Sesungguhnya Makkah telah diharamkan oleh Allah, bukan manusia yang mengharamkannya, tidak boleh bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah dan mencabut pohon di Makkah. Seandainya ada orang yang berdalih bahwa Rasulullah saw pernah melakukan peperangan di Makkah, maka katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya Allah mengijinkan bagi Rasul-Nya tetapi tidak mengijinkan kepadanya (Nabi saw) hanya sebentar. Sekarang “keharaman“ telah kembali lagi sebagaimana sebelumnya. Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir“.
Kemudian Rasulullah membaiat kaum lelaki agar senantiasa mendengar dan taat  kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa(4):80).
Setelah itu giliran kaum perempuan yang berbaiat. Rasulullah bersabda :
“Hendaklah kalian berbai‘at kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Tidak akan mencuri, tidak akan berzina dan tidak akan membunuh anak-anak kalian. Juga tidak berbohong untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang kalian:“ 
Kemudian Rasulullah saw berkata kepada Umar ra: “Bai‘atlah mereka”.
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Adalah Nabi saw membai‘at kaum wanita secara lisan (saja) dengan ayat ini: “Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.“ Selanjutnya Aisyah ra menjelaskan: “Tangan Rasulullah saw tidak menyentuh tangan wanita sama sekali kecuali wanita yang telah halal baginya“. Muslim meriwayatkan hadits yang serupa dengan ini dari Aisyah ra.
Peristiwa pembaitan kaum perempuan diatas inilah yang kemudian menjadi dasar tidak perlunya jabat tangan antara kaum lelaki dan kaum perempuan kecuali muhrimnya. Banyak peristiwa menarik di seputar penaklukkan Mekah yang dapat dijadikan acuan dan dasar pertimbangan dalam Islam. Jabat tangan sebagaimana kasus diatas, pelarangan pertumpahan darah dan penebangan pohon di kota Mekah, pelarangan gambar dan berhala di masjid adalah diantaranya.
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Fadhalah bin Umair al-Laitsi bermaksud ingin membunuh Nabi saw pada saat beliau sedang thawaf di Ka‘bah di hari Fat-hu Makkah. Ketika Fadhalah mendekat tiba-tiba Rasulullah saw mengatakan: “Apakah ini Fadhalah?“ Ia menjawab: “Ya, saya Fadhalah wahai Rasulullah saw.“ Nabi saw bertanya: “Apa yang sedangkau pikirkan?“ Ia menjawab: “Tidak memikirkan apa-apa, aku sedang teringat Allah kok.“ Sambil tersenyum Rasulullah saw berkata: “Mohonlah ampun kepada Allah …“ Kemudian Nabi saw meletakkan tangannya di atas dadanya sehingga hatinya menjadi tenang. Fadhalah berkata: “Begitu beliau melepaskan tangan dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada beliau.“
Begitulah Mekah, kota kelahiran Rasulullah dimana rumah suci tertua didunia berdiri, akhirnya kembali ke pelukan Islam, setelah berabad-abad lamanya diselewengkan. Tidak itu saja. Rasulullah Muhammad saw, atas izin Sang Pemilik, tidak hanya berhasil mengembalikan kedudukan kota yang tinggi namun juga berhasil mengajak seluruh penduduknya agar kembali menyembah hanya kepada Allah swt, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu. Rasulullah berada di Mekkah selama 19 hari. Setelah itu beserta pasukannya beliau kembali ke Madinah.
Wallahu’alam bish shawwab

1 komentar:

  1. Bovada: Best Casino, Slots & Table Games | JtmHub
    Try your luck in Bovada with 평택 출장샵 over 경주 출장샵 200+ casino games 보령 출장샵 and slots from the 통영 출장샵 top providers, including progressive jackpot slots, live blackjack, 충청남도 출장안마

    BalasHapus