Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Mei 2011

Hari-Hari Akhir Rasulullah saw

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Maidah(5):3).
Potongan ayat ini diturunkan ketika Rasulullah sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Ayat tersebut turun dengan disaksikan sekitar 144 ribu kaum Muslimin yang untuk pertama kalinya menjalankan ibadah haji tanpa bercampur dengan kaum Musrykin. Karena sebelum itu, kaum Muslimin melaksanakan haji bercampur dengan kaum Musrykin yang terbiasa tawaf tanpa mengenakan sehelaipun benang di tubuh mereka.
Ayat diatas menandakan bahwa itu adalah akhir dari tugas Rasulullah dalam menyampaikan dakwah. Dan memang demikianlah keadaannya.  Beberapa hari kemudian Rasullullahpun mulai sakit. Namun demikian ini tidak berarti bahwa setelah itu tidak ada lagi satupun ayat yang turun.  Kata “Kusempurnakan ..”  yang dimaksud dalam ayat diatas adalah sempurna dalam kewajiban dan hukum.
Maka dibawah pengawasan langsung Rasulullah, dengan Madinah sebagai pusat pemerintahannya, kaum Musliminpun dengan tenang dapat menjalankan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan hukum Islam yang telah benar-benar sempurna. Kendati demikian ada yang masih menjadi ganjalan bagi Rasulullah.
Pada akhir hayat hidup Rasulullah, seluruh jazirah Arab memang telah takluk kepada Sang Khalik,  sebagaimana mestinya. Meski beberapa daerah masih tampak terpaksa melakukannya. Bahkan pada masa itu telah muncul beberapa orang yang mengaku-ngaku nabi. Ini terjadi karena melihat kesuksesan dan ‘keuntungan’ duniawi yang diraih Rasulullah, dalam pandangan mereka tentu saja.
Lain halnya dengan wilayah utara, daerah perbatasan kekuasaan Rumawi dan Persia di daerah Syam, Mesir dan Irak. Wilayah ini,  khususnya perbatasan Syam, Rasulullah berpendapat bahwa harus diperkuat. Tujuannya supaya pasukan Romawi yang beberapa waktu lalu telah menyiapkan pasukannya ( dalam perang Tabuk) tidak kembali lagi menghasut penduduk sekitarnya dan mengerahkan pasukannya untuk melawan Islam.
Untuk itulah maka Rasulullahpun memerintahkan Usamah bin Zaid untuk memimpin kaum Muslimin memerangi mereka. Disamping mendatangi perbatasan Balqo‘ dan Darum di Palestina, putra  Zaid bin Haritsah yang baru berusia sekitar 19 tahun ini juga diperintahkan untuk pergi ke Mu’ta, tempat di mana ayahnya dulu terbunuh.
Namun penunjukkan Usamah yang dianggap masih terlalu belia itu malah memancing reaksi negatif kaum munafik. Padahal penunjukkan tersebut bukannya tanpa maksud. Rasulullah ingin menunjukkan bahwa kaum muda adalah kaum yang patut diandalkan dan harus diberi kesempatan sekaligus tanggung-jawab.
Dia (Nabi saw) mengangkat anak ingusan menjadi komandan di kalangan pembesar Muhajirin dan Anshar”.
Menanggapi hal ini, maka Rasulullahpun segera bertindak. Dalam keadaan kepala mulai terasa sakit, Rasulullah bersabda : “Jika kalian (orang-orang munafik) menggugat kepemimpinan Usamah bin Zaid maka (tidaklah aneh karena) sesungguhnya kalian juga pernah menggugat kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, sungguh ia pantas dan laik memegang kepemimpian itu. Demi Allah, ia adalah orang yang sangat aku cintai. Demi Allah, sesungguhnya (pemuda) ini (maksudnya Usamah bin Zaid) sangat baik dan pantas. Demi Allah, ia adalah orang yang sangat aku cintai, maka aku wasiatkan kepada kalian agar mentaatinya karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang shalih di antara kalian.“
Maka berangkatlah Usamah beserta pasukan besarnya. Namun setiba di Jurf, sebuah desa tak jauh dari Madinah,  Usamah memutuskan untuk menghentikan pasukannya. Ia mendapat kabar bahwa sakit Rasulullah bertambah parah. Ucapan Rasulullah bahwa hidup beliau tidak lama lagi, terus terngiang-ngiang di telinga para sahabat. Tak satupun diantara mereka yang mau kehilangan detik-detik terakhir kehidupan manusia yang paling mereka cintai itu. Sambil menanti perkembangan, Usamah akhirnya memerintahkan pasukannya untuk mendirikan kemah di tempat tersebut.
Sementara itu Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘ad meriwayatkan dari Abu Muwahibah, mantan budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah saw, ia berkata: “Rasulullah saw pernah mengutusku pada tengah malam seraya berkata: ‘Wahai Abu Muwaihibah, aku diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi penghuni (kuburan) Baqi‘ ini, maka marilah pergi bersamamu”.  Kemudian aku pergi bersama beliau. Ketika kami sampai di tempat mereka, beliau mengucapkan: “Assalamu‘alaikum ya ahlal maqabir! Semoga diringankan (siksa) atas kalian sebagaimana apa yang dilakukan manusia. Berbagai fitnah datang seperti gumpalan-gumpalan malam yang gelap, silih berganti yang akhir lebih buruk dari yang pertama”.
Kemudian beliau menghampiriku seraya bersabda: ;Sesungguhnya aku diberi kunci-kunci kekayaan dunia dan keabadian di dalamnya, lalu aku disuruh memilih antara hal tersebut atau bertemu Rabb-ku dan sorga.’ Aku berkata kepada beliau: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, ambillah kunci-kunci dunia dan keabadian di dalamnya kemudian surga”.’ Nabi saw bersabda: ‘Demi Allah tidak wahai Abu Muwahibah! Aku telah memilih bertemu dengan Rab-ku dan sorga”. Kemudian Nabi saw memintakan ampunan untuk penghuni Baqi’ dan meninggalkan tempat. Sejak itulah Rasulullah saw mulai merasakan sakit yang kemudian beliau meninggal dunia”.
Pertama kali Rasulullah saw merasakan sakit keras di bagian kepala. Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa sepulangnya dari Baqi‘, Nabi saw disambut oleh Aisyah ra seraya berkata: “Aduh kepalaku sakit sekali!“ Lalu Nabi saw berkata kepada Aisyah: “Demi Allah wahai Aisyah, kepalaku sendiri terasa sakit“.
Akan tetapi sakitnya Rasul ini tidak mengurangi kebiasaan beliau bercanda dengan istri-istri beliau. Suatu kali karena Aisyah senantiasa ikut mengeluh sakit kepala tatkala Rasul mengatakan bahwa kepala beliau sakit, Rasulpun bercanda :   “Apa salahnya kalau kau yang meninggal lebih dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu, menyembahyangkanmu dan menguburkanmu”.
Dipicu rasa cemburu yang sangat tinggi, dengan kesal Aisyah, yang masih muda itu, menjawab ketus:” Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan isteri-isterimu ! ”.
Mendengar jawaban tersebut, dengan menahan rasa sakit, Nabipun hanya tersenyum sambil memandang mesra sang istri yang dinikahi pertama setelah wafatnya satu-satunya istri tercinta, Khadijah ra itu.
Sakit di bagian kepala itu semakin bertambah berat sehingga menimbulkan demam yang sangat serius. Permulaan sakit ini terjadi pada akhir bulan Shafar tahun ke 11 H. Selama itu Aisyah ra senantiasa menjampinya dengan sejumlah ayat-ayat Al-Quran yang berisi mu‘awwidzat (permintaan perlindungan kepada Allah). Yang dimaksud menjampi adalah mengusapkan tangan sambil meniupkannya kebagian yang sakit seraya membacakan doa.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah ra mengabarkan, Sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasakan sakit beliau meniup dirinya sendiri dengan mu‘awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Dan ketika mengalami sakit kepala yang kemudian disusul kematiannya, itu akulah yang meniup dengan mu‘awwidzat yang biasa digunakannya lalu aku usap dengan tangan Nabi saw seraya mengharap berkahnya.
Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada ditempat Maimunah ra, umirul Mukminin yang kebetulan saat itu mendapat giliran, Rasulullah merasa bahwa sakitnya makin terasa berat. Maka Rasulullahpun memanggil semua istri beliau. Rasulullah meminta izin agar untuk seterusnya para Umirul Mukminin  ridho dan mau memberi izin Aisyah ra, merawat beliau di rumah Aisyah. Para Umirul Mukminin sangat dapat memahami keinginan terakhir suami tercinta sekaligus nabi mereka itu. Maka dengan  izin dari mereka semua, akhirnya Nabi saw dipindahkan ke rumah Aisyah dengan dipapah oleh al Fadhal dan Ali bin Abi Thalib.
Di rumah Aisyah ra itulah sakit Rasululah saw semakin bertambah keras. Mengetahui para sahabat  mulai resah dan berduka maka Nabi saw bersabda: “Siramkanlah aku dengan tujuh qirbah air karena aku ingin keluar berbicara kepada mereka.“ Aisyah ra berkata: “Kemudian aku dudukkan Nabi saw di tempat mandi lalu kami guyur dengan tujuh qirbah air sampai beliau mengisyaratkan dengan tangannya: “ Cukup … Cukup “. Kemudian beliau keluar dan berkhutbah kepada mereka.
Nabi saw keluar dengan kepala terasa pusing lalu duduk di atas mimbar. Pertama-tama Rasulullah  saw berdo‘a dan memintakan ampunan untuk para Mujahidin Uhud. Kemudian dengan wajah serius beliau meneruskan :
“Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu. Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang kepemirnpinnya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan”.
Setelah diam sejenak, demikian pula para sahabat yang hadir, Rasulullah meneruskan sabdanya : “Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kekayaan dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada disisi-Nya“.
Mendengar itu, sontak Abu Bakar menangis (karena mengetahui apa yang dimaksud Nabi saw) seraya berkata dengan suara keras: “Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami“.
Kemudian Nabi saw bersabda : “Tunggu sebentar wahai Abu Bakar! Wahai manusia sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam hartanya dan persahabatannya ialah Abu Bakar. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku, akan tetapi persaudaraan yang sejati adalah persaudaraan Islam. Tidak boleh ada Khaukah (lorong) di masjid kecuali Khaukah (lorong) Abu Bakar. Sesungguhnya aku adalah tanda pemberi petunjuk bagi kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci dunia. Demi Allah, aku khawatir kalian akan menjadi musyrik sesudahku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia“.
Kemudian Rasulullah saw bangkit berdiri untuk kembali ke rumah. Namun Rasulullah berhenti sejenak, menoleh dan berucap :
“Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar baik-baik; sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu juga keadaannya, tidak bertambah. Mereka itu orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka dan maafkanlah kesalahan mereka”.
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka”.(QS.At-Taubah(9):117).

Makin hari sakit Rasulullah saw makin bertambah berat. Namun demikian beliau tetap memimpin  shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat, meski usai shalat tidak seperti dahulu ketika sehat, yaitu duduk dikelilingi para sahabat sambil memberikan tausiyah. Rasulullah kini langsung pulang, masuk kamar dan beristirahat.
Suatu hari, ketika Rasulullah saw sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami shalat maka beliau bersabda: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.“ Aisyah ra menyahut: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang yang lembut. Ia suka menangis kalau sedang membaca Qur’an. Jika dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang“. Nabi saw bersabda: “Kalian memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya mengimami shalat jama‘ah“. Maka Abu Bakarpun keluar dan bertindak sebagai Imam shalat jama‘ah, menggantikan Rasulullah yang makin hari makin terlihat lemah.
Hingga suatu ketika Rasulullah mendengar suara lantang Umar bin Khattab sedang mengucapkan takbir di masjid. “Mana Abu Bakar?” tanya Rasulullah. “Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.”, sambung Rasul lagi.
Rupanya ketika Bilal memanggil Abu Bakar untuk mengimami shalat, ia ketika itu sedang tidak ada di tempat. Maka sebagai gantinya Bilalpun berinisiatif memanggil  Umar, yang dalam pikirannya tentu Nabi saw akan menyetujuinya karena Umar adalah juga salah satu sahabat kepercayaan Nabi.
Waktu terus berlalu. Sakit Rasulullah makin hari makin bertambah. Beliau mengalami demam sangat tinggi. Setiap hari para sahabat bergantian datang menjenguk. Demikian pula Fatimah, satu-satunya putri Rasulullah. Setiap kali datang menjenguk, diciumnya putri kesayangan tersebut. Namun suatu hari ketika sakit Rasul makin berat, Fatimahlah yang mencium ayahnya tercinta.
“Selamat datang, puteriku“, sambut Rasul. Dengan wajah menahan duka Fatimahpun duduk disamping ayahnya. Tak lama kemudian Rasul membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Seketika Fatimah tertawa. Wajahnya langsung berubah cerah. Tetapi beberapa saat kemudian setelah  Rasulullah kembali membisikan sesuatu, Fatimahpun menangis sedih.
Aisyah kemudian bertanya, apa yang dikatakan ayahnya itu. Fatimah hanya menjawab pendek :
” Aku tidak akan membuka rahasia ayahku “.
Di kemudian hari, setelah Rasulullah wafat, Fatimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kata  bahwa dirinya adalah orang pertama dari pihak keluarga yang akan menyusul Rasulullah wafat. Itu sebabnya ia tertawa. Selanjutnya ketika Rasulullah berbisik bahwa beliau akan wafat disebabkan  sakitnya itu, iapun tak tahan untuk tidak menangis.
Selama beberapa hari kemudian, Rasulullah menggigil hebat. Tubuhnya mengalami demam sangat tinggi. Oleh karenanya sebuah bejana berisi air dinginpun diletakkan disamping Nabi saw. Sekali-sekali beliau memasukkan tangan beliau ke dalam air tersebut lalu mengusapkannya ke muka. Saking tingginya suhu tubuh Rasulullah, kadang beliau sampai tak sadarkan diri. Tak lama setelah itu beliaupun sadar kembali dengan keadaan yang begitu payah.
Karena perasaan sedih yang sungguh menyayat hati, suatu hari Fatimah berkata mengenai penderitaan ayahnya itu: “Alangkah beratnya penderitaan ayah!”
“Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini,” jawab nabi saw, berusaha menenangkan putri kesayangan satu-satunya itu .
Suatu hari, Rasulullah meminta Aisyah agar memanggil ayahnya datang. Aisyah ra berkata: “Pada waktu sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku: ‘Panggillah kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat. Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan: “Aku lebih berhak“, padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidak rela kecuali Abu Bakar”.
Sementara itu, Ibnu Abbas meriwayatkan : “Ketika Rasulullah saw sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah: ‘Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya’. Kemudian sebagian mereka berkata, ‘Sesungguhnya Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada Al-Quran, cukuplah bagi kita Kitab Allah’. Maka timbullah perselisihan diantara orang-orang yang ada di dalam rumah. Diantara mereka ada yang berkata: ‘Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya’. Diantara mereka ada juga yang mengatakan selain itu. Mendengar perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda: “Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi.”
Berita sakitnya Nabi saw yang dari hari ke hari makin bertambah itu telah diketahui oleh seluruh penduduk Madinah. Usama dan pasukannya yang selama itu menunggu di Jurf akhirnya juga mendengar berita tersebut. Maka Usamapun memutuskan untuk pulang dan segera menjenguk Rasulullah. Betapa sedihnya Usama ketika dilihatnya, Rasulullah tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Sebaliknya begitu melihat orang yang dicintai datang menjenguk, Rasulullah mengangkat tangan beliau dan meletakannya di bahu Usama, tanda bahwa beliau sedang mendoakannya.
Beberapa waktu kemudian,menyadari bahwa waktunya telah makin mendekat, Rasulullah saw bertanya kepada Aisyah : “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu? “.
Ketika sakit Rasulullah makin bertambah parah, beliau, yang hanya memiliki harta tujuh dinar di tangan itu, memang telah meminta Aisyah agar menyedekahkan uang tersebut. Namun karena kesibukannya mengurus dan merawat sang suami tercinta, tampaknya Aisyah lupa melaksanakan permintaan Rasulullah. Dengan menyesal Aisyah  menunjukkan uang yang masih ada di tangannya.
“Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhannya, sekiranya ia menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya”, begitu komentar Rasul sambil memegang uang yang baru saja diserahkan kembali oleh Aisyah itu. Kemudian segera beliau membagikan uang tersebut kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.
Malamnya, panas tubuh Rasulullah agak berkurang. Karena merasa agak sehat maka subuh esok paginya beliau turun dari pembaringannya.  Dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadzl bin’l-’Abbas, beliau keluar menuju masjid untuk shalat subuh berjamaah. Disana beliau mendapati Abu Bakar sedang mengimami shalat. Melihat kedatangan Rasulullah saw, Abu Bakar segera mundur. Namun Rasulullah memberi isyarat agar ia terus melanjutkan memimpin shalat. Selanjutnya Rasulullah duduk di sebelah kanan Abu Bakar lalu melakukan shalat, bermakmum kepada Abu Bakar, bersama para sahabat yang tetap berdiri melanjutkan shalat.
Betapa gembiranya para sahabat melihat Rasulullah kembali dapat shalat bersama mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa shalat tersebut merupakan shalat terakhir mereka bersama orang yang paling mereka cintai. Mereka bahkan menyangka Rasulullah telah sehat dan pulih kembali. Padahal sebenarnya sakit Rasulullah semakin bertambah serius.
Ibnu Mas‘ud meriwayatkan: “Aku pernah masuk membesuk Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras, lalu aku pegang beliau dengan tanganku seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam panas sekali’. Jawab Nabi saw: ‘Ya, demam yang kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua orang dari kalian (dua kali lipat).’ Aku katakan: ‘Apakah hal ini karena engkau mendapatkan dua pahala?’ Nabi saw menjawab: ‘Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya’“. ( HR. Muttafaq ‘Alaih).
Dalam keadaan sakit keras seperti itulah Rasulullah saw kemudian menutupi wajahnya dengan kain. Apabila dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda: “Semoga laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid“. ( HR. Muttafaq ‘Alaih).
Ini adalah isyarat dari Rasulullah saw agar kaum Muslimin tidak melakukan tindakan seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu menjadikan makam atau kuburan sebagai tempat ibadah atau masjid.
Beberapa hari kemudian, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun ke 11 H atau 8 Juni 632 M, ketika para sahabat sedang menunaikan shalat Subuh ber-jamaah, tirai kamar Aisyah yang letaknya memang menempel dengan masjid dimana para sahabat biasa shalat, tiba-tiba tersingkap. Dari balik tirai tersebut muncul seraut wajah Rasulullah dengan senyuman tersungging di bibir.
Betapa gembiranya para sahabat menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka bahkan nyaris menangguhkan shalat saking antusiasnya ingin menyambut sang pemimpin yang begitu mereka cintai itu. Mengira bahwa Rasulullah akan shalat, Abu Bakarpun menggeser tubuhnya, untuk memberi tempat kepada Rasulullah. Namun Rasulullah segera memberi tanda agar Abu Bakar meneruskan shalatnya. Kemudian Rasulullah masuk kembali ke kamar.
Selanjutnya karena menyangka Rasulullah telah pulih kembali, dengan hati lega para sahabatpun  bergegas meninggalkan masjid untuk mengurus segala keperluan yang selama ini agak terbengkalai. Demikian pula Abu Bakar. Ia meminta izin untuk pulang ke rumahnya di Sunuh.
Sebaliknya, sebenarnya Rasulullah telah mengetahui bahwa saat-saat terakhir beliau telah tiba.  Para sahabat tidak menyadari bahwa senyum Rasulullah yang mereka lihat itu adalah isyarat pamit Rasulullah yang tampak puas menyaksikan umatnya telah mampu mendirikan shalat Subuh berjamaah dengan tertib. Selanjutnya Rasulullah merebahkan diri ke atas pangkuan Aisyah, siap menghadapi sakratul maut. Aisyah berkata : “ Saat itu, di hadapan beliau terdapat bejana berisi air. Kemudian Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam bejana dan mengusapkannya ke wajah beliau seraya berkata : “ La ilaha illallah. Sesungguhnya kematian itu mempunyai sekarat”. ( HR. Bukhari).
Aisyah menceritakan,“Ketika aku sedang memangku Rasulullah, tiba-tiba Abdurahman masuk dengan membawa siwak ditangan. Aku melihat Rasulullah terus menerus menatap siwak tersebut hingga aku tahu kalau beliau menginginkannya. Aku tanya “ Kuambilkan untukmu?” Setelah memberi isyarat ‘ya’, lalu kuberikan siwak itu. Karena siwak terlalu keras, kutawarkan untuk melunakkannya dan beliau member isyarat setuju. Beliau kemudian memasukkan ke dua tangannya ke dalam bejana berisi air yang ada di hadapannya lalu mengusap wajahnya seraya berucap : “ Fir-Rafiqil A’la’, sampai beliau wafat dan tangannya lunglai”. ( HR.Bukhari).
Aisyah berkata, “Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Handai Tertinggi dari surga“. “Kataku, ‘Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’ Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.(QS.Al-Anbiya(21):34-35).
( Bersambung).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar